Bangsa Perlu Tahu! Investor Asing Langsung “Membuang” Rupiah

Bangsa Perlu Tahu! Investor Asing Langsung "Membuang" Rupiah

Jakarta, CNBC Indonesia –  Biji tukar rupiah menguat tipis 0, 1% melawan dolar Amerika Serikat (AS) ke Rp 14. 830/US$ sepanjang pekan ini. Meski demikian, jika dilihat lebih ke akhirnya, rupiah sebenarnya dalam tren pelemahan meski pergerakannya smooth , tidak mengalami gejolak seperti bulan Maret lalu.

Rupiah berada mulai masuk di dalam tren pelemahan sejak 8 Juni lalu, total persentase pelemahan mematok pekan ini sebesar 7, 08%, melansir data Refinitiv.


Selama periode itu, investor asing melakukan aksi “buang” atau jual rupiah, yang menjelma salah satu pemicu pelemahan. Kabar buruknya, aksi jual tersebut meningkat dalam 2 pekan terakhir, dengan terlihat dari hasil survei 2 mingguan Reuters menunjukkan posisi short (jual) tersebut naik nyaris 2 kali ganda dibandingkan 2 pekan lalu.

Survei daripada Reuters tersebut menggunakan rentang -3 sampai 3. Angka positif berarti pelaku pasar mengambil posisi long (beli) terhadap dolar AS dan short (jual) terhadap rupiah. Begitu juga sebaliknya, angka negatif berarti mengambil kedudukan short (jual) terhadap dolar AS & long (beli) terhadap rupiah.  

Hasil survei terbaru yang dirilis Kamis (1/10/2020) kemarin membuktikan angka 0, 61. Dua pekan lalu, hasil survei menunjukkan angka 0, 39, berbalik cukup kaya dibandingkan hasil survei sebelumnya -0, 19. Sebelum angka negatif tersebut, dalam 4 survei sebelumnya dirilis positif.

Survei yang dilakukan Reuters tersebut konsisten dengan pergerakan di tahun tersebut. Selama periode aksi “buang” rupiah pada empat survei itu, Tanda Uang Garuda mengalami pelemahan 2, 68%. Sementara saat investor menjemput posisi long (beli) dengan angka inspeksi -0, 19, rupiah menguat sedikit 0, 07%.

Pada bulan Maret lalu, ketika rupiah mengalami gejolak, investor mengambil kondisi short (jual) rupiah, dengan angka inspeksi yang dirilis Reuters sebesar satu, 57. Semakin tinggi nilai tentu, semakin besar posisi short rupiah yang diambil investor.

Mendatangi bulan April, rupiah perlahan menguat dan hasil survei Reuters menunjukkan kedudukan short rupiah semakin berkurang, hingga belakangan investor mengambil posisi long mulai pada 28 Mei lalu. Alhasil rupiah membukukan penguatan lebih dari 15% sejak awal April hingga pangkal Juni.

Kini secara investor kembali mengambil posisi short , bahkan naik nyaris 2 kali lipat, rupiah tentunya berisiko kembali melemah.

Tren penggandaan kasus penyakit akibat virus corona (Covid-19) yang terus menanjak maka saat ini, memberikan terkanan untuk rupiah. Bahkan, penambahan kasus perharinya masih cenderung tinggi.

Akibat tren penambahan kasus dengan masih menanjak, kebijakan Pembatasan Baik Berskala Besar (PSBB) terus berlangsung di beberapa wilayah di Nusantara. Di DKI Jakarta, sebagai tengah perekonomian Indonesia bahkan kembali menerapkan PSBB yang lebih ketat di dalam tiga pekan terakhir.

Alhasil, roda bisnis berputar secara lambat, dan perekonomian Indonesia jelas mengalami resesi di kuartal III, hanya seberapa dalamnya yang masih menjadi misteri. Di kuartal II-2020 lalu, perekonomian Indonesia minus 5, 32% year-on-year (YoY).

Perekonomian Indonesia terancam gagal bangkit dalam kuartal IV-2020 jika tren penggandaan kasus Covid-19 belum mampu diredam, dan PSBB yang ketat terus berlangsung.

Hal itu membuat pelaku pasar saat itu mengambil posisi short (jual) terhadap rupiah.

Hasil survei tersebut juga menunjukkan investor melakukan menjemput posisi jual rupiah akibat kekhawatiran akan revisi undang-undang BI, mewujudkan bank sentral tidak lagi mandiri, dan rentan mengalami intervensi yang bersifat politis.

Bank investasi Societe Generale dalam sebuah catatan yang dikutip Reuters memprediksi rupiah akan menjadi mata uang secara kinerja terburuk di Asia pada semester II tahun ini. Jadi aset dengan imbal hasil mulia, rupiah masih akan dikalahkan sebab rupee India meski yield yang diberikan lebih rendah.

TIM RISET CNBC  INDONESIA 

[Gambas:Video CNBC]
(pap/pap)