Bungkus Jokowi, RI Mau Sukses Vaksinasi Covid, Pertimbangkan Ini!

Bungkus Jokowi, RI Mau Sukses Vaksinasi Covid, Pertimbangkan Ini!

Jakarta, CNBC Indonesia –  Sebagai salah satu negara dengan penanganan wabah Covid-19 yang dicap buruk oleh publik global, negeri berupaya untuk mendatangkan sebanyak mungkin vaksin ke RI.  

Vaksin sebagai barang keramat ini dinilai menjadi solusi untuk menekan pandemi  dan memulihkan perekonomian domestik yang porak-poranda. Setelah tahu absen dan menjadi pergunjingan pada jagat dunia maya Tanah Cairan, Menteri Kesehatan Terawan  Agus Putranto akhirnya muncul ke publik.

Kemarin (1/10/2020), mantan Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Tanah tersebut mengatakan kebutuhan vaksin Nusantara saat ini sebanyak 320 juta dosis. Menggunakan asumsi 1 karakter disuntik dua dosis vaksin oleh sebab itu ada 160 juta warga +62 yang ditargetkan untuk vaksinasi.  


Jumlah tersebut  sama dengan kurang lebih 59% dari total populasi Indonesia. Menurut laporan McKinsey  & Company, kapasitas manufaktur vaksin Covid-19 global diperkirakan bakal menyentuh 8, 4 miliar di tahun depan.  

Namun tetap saja total tersebut baru perkiraan. Lagipula tidak semua vaksin yang sedang menjalani evaluasi klinis saat ini bakal lolos dan mendapat izin edar dari otoritas medis.  

Artinya ketersediaan vaksin datang dengan tahun depan masih terbatas. Untuk itu pemerintah melalui  Kementerian Luar Negeri, Kementerian BUMN, Kepala BOPM, serta Kepala BNPB  mencari jalan untuk menyediakan vaksin tersebut dengan menjajaki kerja sama dan lobi dengan pihak serta pemerintah luar negeri.

Sebagai informasi, saat ini Indonesia sudah mendapatkan komitmen pengadaan vaksin dari perusahaan farmasi asal China yaitu Sinovac dan  G42 dari Abu Dhabi. Dari dalam negeri ada serupa konsorsium Eijkman yang tengah menggelar vaksin untuk Covid-19 yang dinamai Vaksin Merah Putih guna menekan impor.

Selain pasokan vaksin, faktor lain yang serupa sedang diupayakan oleh pemerintah RI adalah infrastrukturnya. Agar program vaksinasi masal bisa berjalan maka kunci utama lainnya adalah distribusi.  

Untuk mewujudkannya maka dibutuhkan infrastruktur dan logistik dengan memadai. Salah satunya adalah cold chain equipment .   Saat ini kapasitas penyimpanan vaksin RI mencapai 123 juta vaksin, sebagaimana disebutkan oleh Pengantara Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin.

Melalui kerja sesuai antar BUMN terutama penghasil obat yaitu PT Bio Farma  dan PT Kimia Farma  Tbk  bakal terlibat dalam pengadaan alat tersebut sehingga bisa memuat sampai 300 juta vaksin.

Tetapi selain pasokan dan infrastruktur buat menjalankan program vaksinasi masal, ada hal lain juga yang menetapkan diperhatikan oleh pemerintah. Pasalnya tersedia hal yang juga tak kecundang fundamentalnya dari dua aspek sebetulnya.

Studi yang dikerjakan oleh Sarah M. Bartsch, dkk dari City University of New York (CUNY) menggarisbawahi tiga ciri yang penting agar strategi vaksinasi bisa berhasil untuk mengendalikan pandemi.

Tiga faktor itu adalah efektivitas vaksin, jumlah warga yang terinfeksi dan proporsi daripada populasi yang divaksinasi. Menggunakan pemodelan matematika dan studi kasus dalam AS yang juga populasinya luhur, Sarah dan koleganya menemukan sepadan formula.

Apabila pandemi  ingin ditekan sampai 100%, maka total populasi yang terinfeksi epidemi haruslah mendekati nol persen, efektivitas vaksin lebih dari 80% & tiga perempat dari total warga harus divaksinasi.

Tetapi hal itu tentu sangat berat. Untuk aspek efektivitas vaksin hendak sangat tergantung dari hasil tes klinis. Secara sederhana jika efektivitas vaksin 80% artinya ketika sebab 100 orang yang belum terpapar ke patogen divaksinasi, 80 di antaranya bakal kebal ketika terpapar ke patogen yang dimaksudkan.

Efektivitas vaksin yang lebih rendah bukan berarti vaksinasi ialah hal yang mubadzir. Tetap sekadar vaksinasi diperlukan sebagai salah mulia upaya untuk menjinakkan wabah dengan sudah mengglobal ini.

Sementara untuk aspek populasi yang terinfeksi, ini erat kaitannya secara tes yang dilakukan oleh sejenis negara. Semakin banyak tes yang dilakukan di suatu negara oleh sebab itu akan semakin terlihat berapa upah dari total populasi yang terkena.

Untuk hal itu ada kendala yang juga kudu di atasi. Dalam laporan terbaru Bank Dunia September lalu, Nusantara dikatakan memiliki kapasitas menengah pada penanganan dan testing jika dipadankan dengan negara tetangga.

Kendati demikian, jumlah tes dengan dilakukan di RI masih sederhana jauh dari banyak negara pada dunia yang populasinya juga tinggi. Dalam satu hari jumlah karakter yang dites bisa mencapai 20-30 ribu orang melalui swab PCR.  

Perlu tersedia scaling up testing lagi ke ajaran mengingat sangat mudah menemukan penderita Covid-19 di Indonesia. Banyak pula yang tanpa gejala. Dari total tes yang dilakukan rata-rata positive rate-nya berada di angka 15%.  

Artinya dibanding setiap 100 orang yang dites, 15 orang dinyatakan positif. Nilai ini tentu tergolong tinggi. Menurut WHO, indikator ini bisa digunakan untuk melihat apakah wabah sudah terkendali atau belum. Angka positive rate di bawah 5% baru mampu dikatakan wabah bisa dijinakkan.

Namun untuk meningkatkan daya tes deteksi Covid-19 di di negeri bukan hal yang mungkin lantaran PCR  menelan ongkos dengan mahal. Tes Swab PCR  sungguh jadi acuan untuk deteksi Covid-19 karena sensitivitas dan akurasinya.  

Ada juga tes lain yang lebih praktis serta murah, tapi sensitivitas dan akurasinya  rendah. Tes tersebut di pada negeri disebut sebagai rapid test antibodi. Jika ingin memperbanyak tes Covid-19 di dalam negeri, tentu negeri harus mendesain strateginya secara sampai dengan memperhatikan keunggulan dan cacat masing-masing serta faktor keterbatasan dan tantangan yang dihadapi.

Kemudian yang ketiga terkait dengan jumlah orang yang divaksinasi. Ringkasan paling memungkinkan vaksinasi dilakukan adalah dengan mendahulukan masyarakat yang berisiko tinggi dan tenaga medis dengan berjuang di garda terdepan.  

Hanya saja menunjukkan jumlah yang harus divaksinasi serupa tidak bisa asal ambil nilai saja. Harus ada kalkulasi sampai dan pertimbangan epidemiologis yang terang untuk menentukannya.

Benar konsensus yang secara umum beredar semakin banyak orang yang divaksinasi akan semakin baik. Hanya saja seberapa banyak ini seringkali benar susah untuk diimplementasikan karena banyak keterbatasannya, salah satunya adalah pendanaan.  

Oleh karena itu perlu ada pertimbangan epidemiologisnya. Sampai saat ini belum ada yang bisa menjelaskan secara jelas sampai berapa lama antibodi mampu melindungi orang yang sembuh Covid-19 dari terjangkit lagi.

Kasus di Hong Kong menjadi contoh bahwa imunitas seseorang yang sembuh dari Covid-19 masih terhormat lemah. Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah aspek musiman sejak wabah.

Sampai zaman ini masih belum ada konsensus di kalangan ilmuwan apakah pagebluk Covid-19 ini tergolong musiman. Wabah yang memiliki faktor musiman berarti termasuk sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan seperti temperatur, kelembaban dan intensitas paparan sinar matahari.  

Dari berbagai penelusuran, jenis virus yang menyerang bentuk pernapasan seperti influenza dan Covid-19 termasuk yang sensitif terhadap mutasi lingkungan. Virus ini akan mungkin menjangkiti orang ketika musim dingin.  

Hal tersebut juga terkait dengan tingkat imunitas manusia yang cenderung menurun masa suhu dingin. Berkaca dari kenangan pun wabah SARS & Covid-19 yang juga merebak di China awalnya bermula saat musim sejuk.  

Berdasarkan data UK Research & Innovation, istimewa virus corona lain dan influenza memang akan cenderung merebak pada musim dingin.  

Berbagai penelitian yang dimuat di jurnal internasional juga menyebutkan bahwa patogen yang menyerang sistem fotosintesis sangat rentan terhadap kondisi mendalam dan paparan sinar matahari yang cukup.  

Tetapi pada kasus Covid-19, musim radang yang sudah hampir berlalu di negara 4 musim maupun 2 musim tak serta merta menekan kasus infeksi Covid-19. Fenomena dengan terjadi justru sebaliknya dengan adanya lonjakan kasus yang tinggi.

Hal ini membuktikan masih banyak aspek yang belum diketahui dari Covid-19 itu sendiri. Tentu hal ini juga harus dipertimbangkan. Pasalnya strategi vaksinasi juga harus mempertimbangkan faktor musiman dari wabah itu sendiri agar berjalan efektif dan efisien.  

Jadi mewujudkan program vaksinasi masal bukan perkara mudah. Akan betul mustahil dampak vaksinasi masal dirasakan bila faktor-faktor di atas tak dipertimbangkan dengan baik dalam mereka strategi.

TIM RISET CNBC  NUSANTARA

[Gambas:Video CNBC]
(twg/roy)