Bursa Asia Kembali Ambles, Hanya KOSPI yang Masih Menguat

Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar saham Asia ditutup berjatuhan pada perdagangan Rabu (15/9/2021), seiring kembali memburuknya sentimen di kawasan tersebut dan sentimen global pada hari ini.

Hanya indeks KOSPI Korea Selatan yang mampu bertahan di zona hijau pada hari ini. Indeks saham Negeri Ginseng tersebut ditutup menguat 0,15% ke level 3.153,40.

Sementara sisanya ditutup melemah pada hari ini. Indeks Nikkei Jepang ditutup melemah 0,52% ke level 30.577,71, Hang Seng Hong Kong Ambruk 1,84% ke 25.033,21, Shanghai Composite China turun 0,17% ke 3.656,22, Straits Times Singapura merosot 0,71% ke 3.058,61, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir terkoreksi 0,31% ke posisi 6.110,23.


Pasar saham Asia terpantau berjatuhan setelah setelah data penjualan ritel China tumbuh lebih rendah dari yang diharapkan pasar pada Agustus 2021. Angka penjualan ritel China tumbuh 2,5%, lebih rendah dari perkiraan analis dalam polling Reuters sebesar 7%.

Selain itu, adanya laporan bahwa Beijing akan meningkatkan upayanya untuk mempromosikan pengembangan internet “beradab” juga turut memperberat bursa Asia pada hari ini, terutama di pasar saham Hong Kong.

Media China, Xinhua mengatakan bahwa pemerintah China akan mendorong internet yang lebih ‘beradab’ dengan memperkuat pengawasan atas situs-situs berita dan platform online.

Di lain sisi, kasus gagal bayar (default) utang dari perusahaan raksasa properti China, China Evergrande Grup juga masih menjadi sentimen negatif di Asia, terutama di pasar saham China dan Hong Kong.

Saham China Evergrande Group kembali ambles 5,4% ke level terendahnya sejak Januari 2014 lalu, setelah Bloomberg melaporkan bahwa bank-bank besar China telah diberitahu oleh otoritas perumahan China bahwa Evergrande tidak akan dapat membayar bunga pinjaman yang jatuh tempo pada 20 September.

Krisis keuangan Evergrande telah memicu kekhawatiran akan risiko yang lebih luas terhadap pasar properti dan sistem keuangan negara itu. Bahkan mungkin saja dapat berpengaruh ke pasar properti di dunia, yang tentunya berafiliasi dengan Evergrande.

Sementara itu dari Amerika Serikat (AS), kontrak berjangka (futures) indeks saham AS cenderung mendatar di pra-pembukaan (pre-opening) pasar hari ini,setelah Dow Jones tergelincir 290 poin pada Selasa kemarin, karena kekhawatiran investor terhadap prospek pemulihan ekonomi global dan langkah kebijakan moneter selanjutnya dari bank sentral AS.

Kementerian Ketenagakerjaan AS melaporkan IHK inti pada Agustus 2021 adalah 0,1% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Melambat dibandingkan Juli 2021 yang sebesar 0,3% dan menjadi yang terendah dalam enam bulan terakhir.

Dibandingkan dengan Agustus 2020 (year-on-year/yoy), laju IHK inti adalah 4%. Melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 4,3% dan menjadi yang terendah dalam tiga bulan terakhir.

Perlambatan laju inflasi memberi harapan bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) tidak akan terlalu agresif dalam waktu dekat.

Akan tetapi, pelaku pasar kemudian menyadari bahwa perlambatan laju inflasi juga berarti pemulihan ekonomi cenderung kembali tertahan. Hal inilah yang kemudian memunculkan aksi jual terhadap aset-aset berisiko seperti saham.

Di lain sisi, Institute of International Finance (IIF) mengungkapkan bahwa utang global melonjak ke rekor tertingginya yang mencapai US$ 300 triliun pada kuartal kedua tahun 2021.

Namun, utang terhadap produk domestik bruto (PDB) global tercatat menurun untuk pertama kalinya sejak awal pandemi virus corona (Covid-19).

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]
(chd/chd)