Dear Pengusaha Tambang! Maybank Setop Pembiayaan Batu Bara

Jakarta, CNBC Indonesia – Bank asal jati jiran Malaysia, Malayan Banking Berhingga atau Maybank memutuskan mau menghentikan pembiayaan untuk denyut pertambangan batu bara hangat setelah perusahaan berkomitmen menggelontorkan RM 50 miliar ataupun setara dengan Rp 173, 32 triliun (kurs RM 1 = Rp 3. 466, 44) untuk pembiayaan  ekonomi berkelanjutan.

Komitmen ini sebagaimana tercakup dalam muslihat 5 tahun ke pendahuluan perusahaan.

Menurut rilis resmi Maybank, Rabu (6/5/2021), strategi tersebut dirancang untuk mempercepat kemajuan perusahaan dan memperkuat situasi Maybank di antara perbankan terkemuka di kawasan.


Di dalam 2025, Maybank berencana mengalokasikan RM 50 miliar pada upaya mendorong pembiayaan terus-menerus. Dana ini digunakan untuk meningkatkan kehidupan satu juta rumah tangga di seluruh ASEAN, mencapai satu juta tanda per tahun untuk kegiatan keberlanjutan dan memberikan bermacam-macam hasil signifikan terkait United Nations Sustainable Development Goals ( UN SDG ) atau Haluan Pembangunan Berkelanjutan PBB.

Maybank juga berkomitmen mendukung karbon netral di tahun 2030 dan menargetkan bisa mencapai emisi karbon bersih nol  persen pada tahun 2050.

Presiden & CEO Maybank Group Datuk Abdul Farid Alias membaca, hasil kerja perusahaan dalam bidang ESG ( Environmental, Social and Good Governance) atau lingkungan, sosial dan tata kelola ini seiring dengan penjelajahan keberlanjutan dari perusahaan semasa bertahun-tahun.

Datuk Farid  mengucapkan rencana perusahaan tersebut termasuk komitmen pendanaan Maybank untuk ekonomi ‘Nol Deforestasi, Nol Gambut Baru dan Nol Eksploitasi’ (NDPE).

Selain itu, Maybank juga tak memberikan pembiayaan untuk aksi yang masuk daftar hitam, yang dianggap tidak sepakat dengan nilai-nilai inti perusahaan.

“Tidak ada pembiayaan untuk pekerjaan batu bara baru, sembari bertransisi bersama dengan peminjam yang ada untuk mencapai bauran energi terbarukan dengan berkelanjutan dalam jangka membuang hingga jangka panjang, ” ujar Datuk Farid, dikutip CNBC Indonesia, Jumat (7/5/2021).

Datuk Farid menambahkan bahwa prioritas sempurna Grup ke depan ialah memastikan bahwa semua kesimpulan bisnis utama akan didasarkan pada prinsip-prinsip ESG secara tetap memprioritaskan pelanggan & masyarakat.

Sebagaimana diwartakan Reuters, Rabu (6/5), pengumuman Maybank tersebut muncul setelah adanya kritik dari koalisi organisasi non-pemerintah (LSM) di Malaysia dan Indonesia, yang memperhitungkan bank tetap mendanai penyemangat listrik tenaga batu bara, kendati telah membuat janji di bidang ESG.

Menurut catatan Reuters, semakin banyak bank global telah keluar dari pembiayaan batu bara dalam kurang tahun terakhir, di tengah tekanan dari kelompok hijau atau aktivis lingkungan & proses transisi energi ijmal.

Tahun semrawut, pesaing Maybank, CIMB Group Holdings Bhd, telah berkomitmen untuk menghapus batu bara dari portofolionya per 2040.   CIMB mengklaim menjelma grup perbankan pertama pada Malaysia dan Asia Tenggara yang melakukan penghentian pembiayaan batu bara.

Adapun Maybank mengiakan pembiayaan batu bara hanya mencapai 0, 2% daripada total portofolio.

Bank Malaysia dengan aset terbesar itu menargetkan pada 2025 pengembalian ekuitas ( Return on equity /’ROE) antara 13% dan 15%, rasio kos terhadap pendapatan ( Cost to Income Ratio /CIR) di kolong 45%, dan rasio pembayaran dividen (Dividend payout ratio/DPR) antara 40% dan 60% dengan basis kas bersih.

[Gambas:Video CNBC]
(adf/adf)