Dear Trader yang Pegang Dolar AS, Hati-hati Ini Nubuat BI!

Jakarta, CNBC  Indonesia – Bank Indonesia (BI) meyakini kurs dolar Amerika Serikat (AS) melemah  dalam jangka menengah panjang. Meskipun dalam sepekan final, nilai tukar rupiah dasar masih bergerak tanpa perlawanan terhadap dolar AS.

Kurs rupiah sempat  sempat terapresiasi hingga menyentuh level Rp 13. 900 per dolar AS, tapi sayangnya nilai tukarnya telah bertengger lagi di lapisan Rp 14. 300 per dolar AS. Para analis bahkan beranggapan rupiah mampu saja sampai ke Rp 14. 600 per dolar AS dalam waktu dekat.

Haryadi Ramelan, Kepala Departemen Pengelolaan Devisa, sebagai Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI menjelaskan di dalam kondisi sekarang, negara tumbuh seperti Indonesia menjadi satu tempat tujuan menarik sebab para pemegang dana.


Negara maju mematok suku bunga yang rendah, jadi imbal hasil dari pemindahan dananya jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia. Suku kembang acuan 7DRR sebesar 3, 5% dan yield Tulisan Berharga Negara (SBN) 10 tahun di atas 6%.

“Skenarionya dolar AS akan melemah di jangka menengah panjang, dan memberikan ruang gerak untuk stock market dan bond market kita, ” sebutan Haryadi seperti dikutip,   Rabu (10/3/2021).

Dia mengatakan posisi rupiah saat ini masih jauh dari fundamentalnya, sehingga tempat penguatan terbuka cukup lapang. Apalagi indikator perekonomian dalam negeri terus menerus menunjukan perbaikan, baik dari sisi pertumbuhan ekonomi, inflasi had neraca pembayaran.

“Kami yakin. Rupiah sedang undervalue, ruang penguatan rupiah masih ada, ” kasar Haryadi.

Sementara itu kondisi pelemahan biji tukar rupiah terhadap dolar AS sekarang, menurut Haryadi hanya bersifat sementara. Pelemahan dalam beberapa hari terakhir akibat sentimen negatif yang datang dari global.

“Yang terjadi keadaan ini sebuah dinamika rekan yang merupakan technical serta sentimen pasar, tapi pergerakan rupiah masih dalam koridor yang kita prediksi, ” ungkapnya.

Tersedia isu yang berkembang suasana taper tantrum seperti yang terjadi pada 2013 akan kembali terulang. Saat itu dana yang tadinya bertengger dalam negeri mendadak balik ke AS. Rupiah pada waktu seketika anjlok dan ekonomi Indonesia pun lahir semakin melambat.

Munculnya isu tersebut, dipicu oleh kenaikan pesat imbal hasil atau yield US Treasury dalam waktu singkat ini akibat pelaku pasar melihat perekonomian AS hendak membaik, dan inflasi jalan akan naik.

Ketika inflasi naik, investor obligasi tentunya melihat kembang obligasi akan turun serta merugikan, sehingga melepas kepemilikannya, alhasil yield menjadi naik.

“Artinya kalau membandingkan situasi 2013 dan skenario kemungkinan tapering dalam 2021, itu sesuatu yang berbeda kondisinya, ” kasar Haryadi

Atas kondisi pelemahan ini BI memastikan akan selalu berkecukupan di pasar untuk memelihara pergerakan nilai tukar rupiah. Sederet kebijakan siap diluncurkan apabila mengganggu keseimbangan permintaan dan penawaran mata kekayaan sesuai dengan mekanisme rekan.

“Kita jadi menjaga rupiah sesuai dengan fundamentalnya, ” ucapnya.

Data Refinitiv  mencatat, pada perdagangan Selasa kemarin (9/3), biji tukar rupiah sukses memangkas pelemahan melawan dolar  AS. Meski demikian, pelemahan rupiah masih cukup besar serta menjadikannya salah satu lupa uang dengan kinerja terburuk di Asia kemarin.

Rupiah dibuka menyurut 0, 21% ke Rp 14. 380/US$. Setelahnya rupiah langsung jeblok 0, 84% ke Rp 14. 470/US$ yang merupakan level terlemah sejak 4 November 2020. Rupiah berhasil memangkas pelemahan, dan berada di tangga Rp 14. 400/US$, & tertahan di level itu nyaris sepanjang perdagangan kemarin.

Di penutupan perdagangan rupiah berada pada level Rp 14. 390/US$, melemah 0, 28% dalam pasar spot. Mata uang utama Asia bervariasi melayani dolar AS kemarin. Had pukul 15: 07 WIB Selasa kemarin, peso Filipina menjadi yang terbaik secara penguatan 0, 53%.

Sementara itu, ringgit Malaysia menjadi yang terburuk dengan pelemahan 0, 37%, dan rupiah berada pada urutan kedua terburuk.

[Gambas:Video CNBC]
(tas/tas)