Degdeg Ser Tunggu Hasil Rapat The Fed, IHSG Balik ke 6.100

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di awal perdagangan dengan depresiasi tipis 0,04% ke level 6.094,54. Selang 15 menit IHSG kembali menguat 0,08% ke level 6.102,24 pada perdagangan Rabu (28/7/21) menanti hasil rapat komite pasar terbuka bank sentral AS, The Fed.

Nilai transaksi hari ini sebesar Rp 1,1 triliun dan terpantau investor asing membeli bersih Rp 19 miliar di pasar reguler.

Asing melakukan pembelian di saham PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) sebesar Rp 10 miliar dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 5 miliar.


Sedangkan jual bersih dilakukan asing di saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang dilego Rp 10 miliar dan PT Digital Mediatama Maxima Tbk (DMMX) yang dijual Rp 8 miliar.

Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) dimulai malam tadi (WIB). Tengah malam ini rapat akan selesai dan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dijadwalkan memberikan konferensi pers pukul 14:00 waktu setempat, atau 02:00 besok (WIB).

Semua mata dan telinga tertuju pada agenda konpers tersebut, yang biasanya berisikan pandangan terbaru mereka terkait kondisi ekonomi AS, inflasi dan pengangguran. Namun kali ini, pasar menunggu pernyataan tambahan soaltaperingoffatau pengurangan pembelian aset di pasar (quantitative easing/QE).

Di tengah suku bunga acuan nyaris nol, The Fed melakukan pembelian obligasi pemerintah dan surat utang beraset dasar (kredit pemilikan rumah/KPR) di pasar sekunder, dengan nilai minimal US$ 120 miliar per bulan. Tujuannya untuk memasok likuiditas bagi para investor, karena aset mereka dibeli sehingga mereka memegang dana tunai.

Harapannya sederhana. Dana tunai itu diputar ke sektor riil dan pasar modal AS atau ke negara lain, yang otomatis menciptakan suplai pendanaan. Ketika pendanaan tersedia, maka ekonomi AS-dan juga negara lain yang mendapat limpahan dana tunai itu-tentu akan berputar.

Namun yang kini terjadi, dana tersebut kesulitan mencari tempat aman dan menguntungkan untuk berbiak di kala pandemi. Tak heran, bursa AS mencetak reli selama pandemi dan memicu kekhawatiranbubble. Tak sedikit pula dana itu mengalir ke instrumen spekulatif seperti kripto.

Oleh karenanya, aksi pasok likuiditas The Fed dinilai tidak lagi terlalu mendesak. Pasar pun terbelah mengenai arah kebijakan soaltapering off. Analis Commonwealth Bank of Australia (CBA) Joe Capurso menilai jika The Fed mengindikasikan pengurangan program QE akan dilakukan dalam waktu dekat, maka dolar AS akan melesat lagi.

Sementara itu Kepala Riset Valas G10 Standard Chartered Steve Englander menilai tapering masih jauh, dengan mengacu pada pernyataan The Fed terkait inflasi. Meski inflasi di AS sangat tinggi (5.4%), tetapi The Fed berulang kali menyatakan hal tersebut hanya bersifat peralihan.

“Kami perkirakan ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan akan lebih bersabar melihat inflasi ketimbang beberapa pejabat The Fed lainnya, sebab perekonomian masih belum pulih dan pasar tenaga kerja lesu kembali,” kata Englander, sebagaimana dikutip CNBC International.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]
(trp/trp)