Erick Thohir Ungkap Nasib Merpati yang Terkatung-katung

Jakarta, CNBC Indonesia – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menegaskan akan segera menyelesaikan proses penutupan BUMN yang saat ini kondisinya terkatung-katung tidak jelas tanpa menunggu disahkannya amandemen UU BUMN, termasuk di dalamnya adalah PT Merpati Nusantara Airlines (Persero).

Saat ini DPR tengah menggodok amandemen perubahan Undang-Undang (UU) Nomor 19 tahun 2003 tentang BUMN.

Erick menyebut saat ini perusahaan-perusahaan BUMN ‘zombie’ tersebut, telah berada dalam pengurusan PT Danareksa (Persero) dan PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero)/PPA.


“Kan itu yang kita bilang, yang namanya perusahaan sudah operasi 2008 terus mau diapain kan harus diselesaikan. Apakah pegawainya, apakah asetnya, apakah mungkin bisnisnya. itu kan harus kita lakukan. tidak bisa digantung, termasuk pesangon” kata Erick di Telkom Smart Office, Kamis (30/9/2021).

Dia menyebutkan, Danareksa dan PPA telah melakukan langkah penutupan perusahaan BUMN-BUMN tersebut sejak beberapa waktu, saat ini tinggal menunggu langkah formalnya.

“Mereka sudah mendatakan, sudah rapat dengan saya, dengan wamen [wakil menteri] langkah-langkah yang harus diambil. Tinggal menunggu tadi paper works, kertas-kertasnya. Dan ini bukan sesuatu yang ya istilah BUMN bangkrut, enggak, emang dari 2008 sudah nggak jalan. Itu kita kan sekarang perlu percepatan itu,” tegasnya.

Sebelumnya Erick menyebut akan mempercepat proses penutupan tujuh BUMN ‘zombie’ yang sudah tak beroperasi sejak lama. Diharapkan penutupan ini bisa dilakukan sebelum UU BUMN amandemen selesai digarap oleh DPR.

Dia mengungkapkan, percepatan ini diharapkan bisa dilakukan mengingat belum lama ini telah dilakukan penggabungan tiga BUMN ke entitas lain, melalui peraturan pemerintah (PP). Meski penggabungan ini memakan waktu hingga 9 bulan, bukan tidak mungkin bahwa percepatan ini bisa dilakukan.

Sejalan dengan itu, Komisi VI DPR RI telah membentuk panitia kerja (panja). Pembahasan ini bersamaan dengan pembahasan mengenai restrukturisasi dan penyehatan BUMN.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Martin Manurung mengatakan pembentukan panja ini dilakukan untuk membahas kendala-kendala sulitnya menutup perusahaan BUMN yang tak lagi memiliki prospek bisnis.

“[Perihal penutupan BUMN tak operasional] Kita akan dalami di Panja Restrukturisasi dan Penyehatan BUMN di Komisi VI DPR RI,” kata Martin kepada CNBC Indonesia, Selasa (28/9/2021).

Untuk diketahui, saat ini setidaknya terdapat tujuh BUMN yang tak lagi memiliki prospek bisnis hingga tak lagi beroperasional sejak bertahun-tahun yang lalu.

Ketujuh BUMN yang dimaksud antara lain PT Kertas Leces (Persero), Merpati, PT Industri Gelas (Persero)/Iglas, dan PT Kertas Kraft Aceh (Persero).

Lalu ada PT Industri Sandang Nusantara (Persero), PT Istaka Karya (Persero), dan PT Pembiayaan Armada Niaga Nasional (Persero)/PANN.

Khusus untuk Merpati memang sudah berhenti operasi sejak 1 Februari 2014 atau era Presiden SBY sampai Presiden Jokowi, karena terlilit masalah keuangan.

Namun di Agustus tahun lalu, PPA sempat mengatakan pengembangan bisnis Merpati akan difokuskan pada bisnis perawatan pesawat atau maintenance, repair and overhaul (MRO) dan pusat pelatihan (training facility).

PPA menyatakan sudah memiliki pertimbangan matang terkait dengan perubahan lini bisnis utama Merpati. Salah satunya, yaitu pertimbangan aset yang masih ada dan tak banyak bisnis serupa di dalam negeri.

[Gambas:Video CNBC]
(tas/tas)