Gaya Energi Terbarukan RI, Cuma Nambah 400-600 MW per Tahun

Gaya Energi Terbarukan RI, Cuma Nambah 400-600 MW per Tahun

Jakarta, CNBC Indonesia berantakan Target pemerintah buat mencapai bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23% pada 2025 tampaknya tidak mudah dan perlu usaha luar biasa. Hingga kuartal kedua 2020, persentase bauran energi baru terbarukan nasional baru mencapai 10, 9%. Artinya, dalam lima tahun ke depan pemerintah kudu menambah sebesar 12, 1%.

Direktur Manajer Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, buat mencapai target 23% pada 2025 tersebut dibutuhkan tambahan pembangkit listrik berbasis EBT baru sekitar 14-15 giga watt (GW). Artinya, setidaknya per tahunnya harus bisa menambah kapasitas pembangkit baru sekitar 3-4 GW.


Angka itu menurutnya sangat tinggi bila dipadankan dari tren penambahan kapasitas pembangkit listrik berbasis EBT selama 10 tahun terakhir ini.

Dia menyebutkan bahwa tren penggandaan kapasitas pembangkit listrik berbasis EBT selama 2010-2014 hanya sekitar 600 mega watt (MW) per tahun, dan 2015-2020 malah menurun menjadi hanya sekitar 400 MW bohlam tahun.

“Target 23% itu awalnya penggandaan kapasitas kira-kira bisa mencapai 5 GW per tahun, tapi saat ini dengan kalibrasi pertumbuhan listrik tak mencapai 7% per tahun, diperkirakan turun menjadi butuh sekitar 3-4 GW per tahun. Tapi perolehan dalam lima tahun terakhir memang tidak terlalu efektif, tidak bisa menarik investasi, ” jelasnya pada CNBC Indonesia, Senin (30/11/2020).

Dia mengatakan, insentif yang disediakan pemerintah selama ini untuk energi baru terbarukan belum lulus untuk menarik minat investor untuk berinvestasi di sektor energi pertama terbarukan ini.

Menurutnya, insentif finansial diperlukan untuk pembaruan bankability project agar bisa bankable . Sementara untuk bisa berikan harga listrik yang terjangkau, menurutnya perlu insentif lainnya.

“Jadi, bicara menarik investasi, perlu insentif fiskal untuk bankability project dan insentif lainnya untuk berikan harga listrik terjangkau, ” ujarnya.

Seperti diketahui, zaman ini pemerintah tengah menyusun Sistem Presiden terkait harga energi segar terbarukan.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Dadan Kusdiana mengatakan, rancangan Perpres mengenai harga listrik energi terbarukan sudah diserahkan pada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Dadan mengatakan, terdapat tiga formulasi harga listrik EBT. Perdana, melalui harga yang sudah ditetapkan yakni Feed in Tariff (FIT) dengan bertahap, sehingga tidak ada cara bisnis melalui negosiasi.

Kedua, dengan opsi harga prinsip tertinggi (HPT) untuk kapasitas-kapasitas elektrik di atas 5 Mega Watt (MW). Ketiga, skema harga sesuai kesepakatan bersama antara pengembang dan PT PLN (Persero).

“Ada tiga kelompok harga elektrik energi terbarukan, pertama adalah BUGAR, harganya sudah stay di situ. Kalau untuk sampai 5 MW, harganya ditetapkan langsung, jadi tidak ada negosiasi B2B (Business to Business) atau segala macam, ” jelas Dadan saat melakukan kerap bersama Komisi VII DPR, Senin (16/11/2020).

“Kedua, tersedia opsi harga patokan tertinggi, tersebut untuk kapasitas-kapasitas yang agak tinggi di atas 5 MW. Terakhir, harga kesepakatan, ” kata Dadan melanjutkan.

Skema program harga listrik EBT tersebut mau berlaku untuk berbagai jenis penyemangat listrik, di antaranya pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pembangkit elektrik tenaga mikrohidro atau minihidro (PLTM/MH).

[Gambas:Video CNBC]
(wia)