Gegara Covid-19, Rasio Utang RI Lompat ke 38% PDB

Gegara Covid-19, Rasio Utang RI Lompat ke 38% PDB

Jakarta, CNBC  Indonesia –  Dalam nota keuangan RAPBN  tarikh anggaran 2021, pemerintah memperkirakan akal utang terhadap output perekonomian MENODAI tahun 2020 sebesar 38%.

Terjadi peningkatan sebesar 7, 8% dari tahun lalu. Kemajuan rasio utang ini masih lebih tinggi dibandingkan kenaikan Rusia serta Nigeria. Namun masih lebih kecil dibandingkan dengan negara tetangga yang lain seperti Meksiko, Afrika Selatan dan Brasil.  

Pandemi  Covid-19 yang membuat ekonomi RI jatuh membuat pendapatan pajak anjlok sementara beban yang ditanggung negeri meningkat. Hal ini membuat pembiayaan dari sumber utang meningkat.  


Dalam nota keuangan tersebut, pemerintah menjabarkan tiga efek utang yang dihadapi yakni efek tingkat bunga, risiko nilai tukar hingga risiko pembiayaan kembali ( refinancing ).

Perkembangan efek pembiayaan kembali selama kurun masa tahun 2016 sampai dengan kamar Juni 2020 relatif stabil dengan average time to maturity (ATM) di kisaran 9 tahun. ATM yang lebih panjang dapat menyandarkan risiko gagal bayar dengan mengingat kemampuan membayar kembali dan biaya.  

Perkembangan risiko tingkat bunga dalam kurun zaman tahun 2016 sampai dengan bulan Juni 2020 menunjukkan tren dengan menurun, yaitu rasio utang berbuah mengambang/ Variable Rate (VR) terhadap total outstanding turun dari 12, 1% menjadi 9, 1%.

Dibanding sisi risiko nilai tukar, akal utang dalam valas terhadap total utang per Juni 2020 sebesar 37, 5%. Rasio tersebut menurun dari tahun 2016 sebesar 42, 6%.

“Dalam masa tersebut, kebijakan pemerintah mengutamakan penerbitan utang baru dalam denominasi rupiah sebagai komitmen untuk terus meningkatkan partisipasi investor domestik, baik tradisi keuangan maupun ritel, dalam pembiayaan pembangunan. ” tulis nota keuangan RABPN  tahun anggaran 2021 itu.

Beralih ke efek pembiayaan kembali, perkembangan risiko pembiayaan kembali selama kurun waktu tahun 2016 sampai dengan bulan Juni 2020 relatif stabil dengan average time to maturity (ATM) di kisaran 9 tahun.

ATM yang lebih panjang dapat menyandarkan risiko gagal bayar dengan mengingat kemampuan membayar kembali dan bea.   Namun, pada periode 2016 sampai dengan Juni 2020, harmoni utang outstanding pemerintah didominasi oleh tenor kurang dari lima tahun dengan mencapai 40, 8%.  

Dalam jangka menengah, pemerintah tetap akan memprioritaskan penerbitan SBN domestik, di tenor jangka menengah-panjang dengan tetap memertahankan ketersediaan penerbitan instrumen utang jangka pendek bersifat SPN dan SPNS.  

Sampai dengan tahun 2024, pemerintah menargetkan rasio bunga menahan berada di angka maksimal 20%, rasio total utang dalam valuta asing maksimal 41%, ATM 8 tahun dan rasio total utang terhadap PDB berada di kisaran 36-41%.

[Gambas:Video CNBC]
(twg/twg)