Jreeng.. Rusia-China Latihan Militer Bareng! Bikin AS Parno?

Jakarta, CNBC Indonesia – Rusia dan China sepakat untuk mengadakan latihan militer bersama. Latihan ini digelar selama lima hari dimulai pada Senin (9/8/2021) hingga Jumat (13/8/2021) mendatang di wilayah otonomi Ningxia Hui, China.

Mengutip media pemerintah China Global Times, latihan yang dinamakan The Zapad/Interaction-2021 itu akan melibatkan beberapa jenis pesawat, artileri dan peralatan lapis baja untuk menguji pengintaian bersama, peringatan dini, serta kemampuan serangan dan serangan informasi elektronik.

Menurut Kolonel Senior Wu Qian, juru bicara Kementerian Pertahanan Nasional China, tema latihan militer yang akan datang ini adalah bersama-sama menjaga keamanan dan stabilitas regional.

“Tujuan dari latihan ini adalah untuk mengkonsolidasikan kemitraan koordinasi strategis yang komprehensif untuk era baru antara China dan Rusia,” ujar Wu.

“Ini juga akan memperdalam kerja sama pragmatis dan persahabatan tradisional antara kedua militer, yang selanjutnya menunjukkan tekad dan kemampuan kedua belah pihak untuk memerangi pasukan teroris dan menjaga perdamaian dan keamanan regional.”

Latihan ini sendiri diadakan ketika Amerika Serikat (AS) mengadakan latihan besar-besaran. Latihan yang disebut Latihan Skala Besar 2021 atau LSE 2021 ini dimulai pada 3 Agustus dan akan dilaksanakan hingga 16 agustus mendatang.

Untuk menggambarkan besarnya skala latihan ini, Armada ke-6 Angkatan Laut AS Eropa-Afrika mengatakan bahwa latihan serupa mirip dengan apa yang dilakukan Washington pada 1980 lalu dalam mengatur kekuatan menghadapi perang dingin.

“LSE akan menguji komandan kami di seluruh spektrum perang angkatan laut dari taktis hingga strategis, mengintegrasikan Korps Marinir untuk menunjukkan kemampuan armada di seluruh dunia untuk melakukan operasi terkoordinasi dari laut terbuka ke pesisir,” ujar Komandan Armada ke-6 AS Wakil Laksamana Gene Black sebagaimana dikutip Defense Post, Jumat (6/8/2021).

Analis menganggap Latihan Skala Besar 2021 sebagai pesan dari Washington ke Rusia dan China bahwa ia dapat menangani respons simultan terhadap agresi di berbagai bidang.

Menurut James R. Holmes dari US Naval War College, LSE berfungsi sebagai pengingat bagi rival AS bahwa mereka menghadapi tantangan yang berat dari Negeri Paman Sam. Tidak disebutkan secara langsung siapa rival AS itu, namun James mengatakan bahwa beberapa konflik yang terjadi mengarah pada China dan Rusia

“Mereka (musuh AS) akan mendapat tantangan baik itu di Laut Hitam, Laut Mediterania timur, Laut China Selatan, atau Laut China Timur,” katanya kepada Stars and Stripes.

Sementara itu, analis militer China, Song Zhongping, mengatakan bahwa masih berat bagi AS dalam melawan China dan Rusia. Pasalnya kedua negara memiliki kemampuan persenjataan yang cukup mumpuni, terutama dengan pengalaman nuklir.

“Namun, jika targetnya beralih ke China atau Rusia, dua negara dengan kemampuan tempur yang kuat, dan senjata nuklir, AS seakan tidak memiliki pengalaman,” ujarnya.



[Gambas:Video CNBC]
(dru)