Kehormatan Sepeda Lipat Drop, Roda Impor Merajalela!

Jakarta, CNBC Nusantara – Pabrik sepeda dalam negeri sempat merasakan kejayaan di masa awal pandemi Covid-19. Booming sepeda termasuk sepeda ganda bahkan membuat produsen pada negeri kaget, pasalnya tidak ada prediksi bahwa bersepeda menjadi gaya hidup hobi massal kala itu. Namun, nyatanya produksi sepeda pada negeri tidak bisa berbicara banyak.

“Pasar bisa sampai 8 juta tahun kemarin. Sekarang barangkali sekitar 7, 5 juta. Lokal paling banyak 4 juta, itu paling banyak ya, sisanya diimpor. Impor biasanya lebih dominan, ” kata Ketua Asosiasi Industri Persepedaan Indonesia (AIPI) Rudiyono kepada CNBC Indonesia, Selasa (7/6/21).

Namun, harapan untuk produsen lokal berkembang muncul setelah masa pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 68 Tahun 2020 tentang ketentuan Impor Alas Kaki, Elektronik, dan Sepeda Roda Perut dan Roda Tiga, maksudnya demi menekan impor bahan tersebut yang masuk ke Indonesia. Hasilnya mulai tampak.


“Mungkin di sana sudah tertutup duluan Covid-19 jadi pasar sempat dipenuhi dalam kampung. Biasanya di waktu umum sebelum kita Cuma dapat 2 juta unit, padahal kebutuhan 6 juta, ” jelasnya.

Beberapa waktu ke belakang, tren gowes justru memudar. Di sisi lain, sepeda impor sudah mulai ramai merembes kembali ke Indonesia. Walhasil, permintaan dan penawaran malah tidak berbanding, melimpahnya stok membuat harga cenderung meluncur. Hal ini pun diakui oleh importir terutama kemerosotan harga di tingkat pedagang.

“Range (harga) turun 20%-30%, itu realita yang harus diterima. Bahan yang lama sampai pada grosir akhirnya jual bahan aja, yang penting ngejar cashflow. Harga modal aja dilempar supaya terjadi aliran. Pasar menyesuaikan diri secara keadaan. Tapi demand tetap ada, ” kata Kepala Asosiasi Pengusaha Sepeda Nusantara (Apsindo) Eko Wibowo Utomo kepada CNBC Indonesia, Jumat (4/6).

[Gambas:Video CNBC]
(hoi/hoi)