Kurs Dolar Australia Tembus Rp 11. 300/AU$ Lagi, Bagaimana bisa?

Jakarta, CNBC  Indonesia –  Nilai tukar dolar Australia menguat lagi melawan Rupiah pada perdagangan Selasa (20/4/2021) hingga menembus ke arah Rp 11. 300/AU$. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Juni 2014. Rilis notula rapat kebijakan moneter bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) menjadi pemicu kembali menguatnya Gegabah Uang Negeri Kanguru.

Pada pukul 13: 08 WIB, AU$ satu setara Rp 11. 309, dolar Australia menguat 0, 23% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Rilis notula RBA hari ini menunjukkan bank sentral tersebut mengakuti pasar tenaga kerja pulih lebih cepat dari perkiraan. Secara pemulihan tersebut, begitu serupa dengan perekonomian maka suku bunga negatif tidak mau diterapkan di Australia. Walaupun demikian, RBA menyatakan suku bunga tidak akan dinaikkan sampai tahun 2024.


Untuk diketahui, RBA mengadakan rapat kecendekiaan moneter di awal bulan ini, dan data tenaga kerja terbaru lebih menawan lagi.

Biro Statistik Australia pekan berserakan melaporkan tingkat pengangguran pada bulan Maret turun menjelma 5, 6% dari kamar Februari 5, 8%. Tingkat pengangguran tersebut merupakan dengan terendah sejak Maret 2020 lalu.

Penurunan tingkat pengangguran tersebut apalagi terjadi saat partisipan dalam pasar tenaga kerja menggila tajam. Tingkat partisipan dilaporkan sebesar 66, 3%, menjadi yang tertinggi sejak tarikh 1978.

Selain itu, sepanjang bulan Maret perekonomian Negeri Kanguru sanggup menyerap 70. 700 gaya kerja, dua kali ganda dari prediksi pasar sebesar 35. 200 tenaga kegiatan.

Sementara itu rupiah saat ini menanti pengumuman kebijakan moneter Bank Indonesia (BI). Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan BI 7 Day Reverse Repo Rate bertahan di 3, 5%.

Dari 11 institusi yang berpartisipasi di pembentukan konsensus, semuanya damai melihat suku bunga tetak 3, 5%.

“Setelah mempertahankan suku kembang bulan lalu, kami ngerasa bahwa BI cukup sejuk dalam menjaga selisih suku bunga di tengah pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS). Selain itu, bank pokok juga masih meyakini kalau masih ada ruang bagi perbankan untuk menurunkan suku bunga dengan BI tujuh Day Reverse Repo Rate di posisi yang sekarang. Oleh karena itu, situasi kami adalah BI mau terus mempertahankan suku kembang sepanjang 2021, ” papar riset Citi.

Kemudian, Citi juga menghargai stabilitas nilai tukar rupiah akan menjadi pertimbangan BI. Sebagai catatan, rupiah menyurut 1, 11% di depan dolar AS dalam sebulan terakhir. Sejak akhir 2020 ( year-to-date ), depresiasi rupiah menyentuh 3, 7%.

Helmi Arman, Ekonom Citi, menilai risiko depresiasi rupiah masih ada. Pasalnya, perbaikan ekonomi Indonesia menyebabkan impor melonjak.

TIM PENELITIAN CNBC  INDONESIA 

[Gambas:Video CNBC]
(pap/pap)