Mantap, Rupiah Sempat Menguat Tajam ke Bawah Rp 14. 700/US$!

Mantap, Rupiah Sempat Menguat Tajam ke Bawah Rp 14

Jakarta, CNBC  Indonesia –  Nilai tukar rupiah bangkit tajam melawan dolar Amerika Konsorsium (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (18/9/2020), bahkan sempat ke bawah Rp 14. 700/US$. Bank sentral AS (The Fed) dan Bank Indonesia (BI) yang mengumumkan kebijakan moneter Kamis kemarin menjadi penggerak utama hari ini.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0, 47% ke Rp 14. 750/US$. Apresiasi rupiah semakin membesar hingga 0, 88% ke Rp 14. 690/US$. Level tersebut ialah yang terkuat sejak 2 September lalu.

Penguatan rupiah terpangkas, pada pukul 12: 00 WIB berada di level Rp 14. 710/US$, menguat 0, 74$ di pasar spot .


Kamis dini hari waktu Indonesia,   Kedua The Fed Jerome Powell mengumumkan suku bunga tetap sebesar 0-0, 25%, sementara nilai pembelian aset ( quantitative easing /QE) tidak akan ditingkatkan. Untuk diketahui, QE The Fed saat itu nilainya tak terbatas, artinya berapapun akan digelontorkan guna memacu perekonomian.

Kebijakan QE tanpa batas tersebut membuat pasar tak tahu pasti berapa nilai QE yang digelontorkan The Fed semenjak bulannya.

Selain tersebut, Powell juga optimistis terhadap pemulihan ekonomi AS, dengan merevisi proyeksi produk domestic bruto (PDB), inflasi, serta tingkat pengangguran.  

Sementara itu Gubernur BI, Perry Warjiyo, kemarin siang mengumumkan mempertahankan suku bunga acuan sebesar 4%.

“Rapat Dewan Gubernur Bank Nusantara pada 16-17 September 2020 membatalkan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 4%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3, 25%, & suku bunga Lending Facility sebesar 4, 75%, ” papar Perry pada keterangan usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode September 2020, Kamis (17/9/2020).

“Keputusan itu konsisten dengan perlunya menjaga stabilitas eksternal, di tengah inflasi dengan diprakirakan tetap rendah. Bank Nusantara menekankan pada jalur kuantitas mencuaikan penyediaan likuiditas untuk mendorong perbaikan ekonomi dari dampak pandemi Covid-19, ” ujarnya.

Perry mengatakan BI tetap mempertahankan suku bunga acuan pada September itu dengan mempertimbangkan berbagai hal berangkat dari inflasi hingga sistem keuangan baik di domestik maupun global.

“Keputusan ini mengingat perlunya menjaga stabilitas nilai ubah Rupiah, di tengah inflasi dengan diperkirakan tetap rendah, ” ujar Perry melalui konferensi pers maya, Kamis (17/9/2020).

The Fed yang mempertahankan suku bunga 0, 25% sementara BI serupa di 4% tentunya membuat kelainan yield yang cukup tinggi. Ketika suasana perekonomian membaik, investor akan mengalirkan modalnya ke negara yang menyerahkan yield lebih tinggi, sehingga rupiah punya tenaga untuk menguat.

AWAK RISET CNBC  INDONESIA 

[Gambas:Video CNBC]
(pap/pap)