Mengintip Masterplan Alutsista A La Prabowo, Seperti Apa?

Jakarta, CNBC Indonesia berantakan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dalam beberapa kesempatan mengiakan tengah mempersiapkan sebuah coli yang merupakan mandat khusus dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Kepala negara sendiri menginginkan adanya perencanaan pengadaan alutsista dalam jangka waktu 25 tahun. Bukan tidak mungkin, masterplan tersebut akan menggantikan Minimum Essential Force (MEF).

“Presiden telah memerintahkan kami tahun lalu untuk bersama-sama pimpinan TNI menyusun sejenis masterplan, rencana induk 25 tahun yang memberi pada kita suatu totalitas keterampilan pertahanan, ” kata Prabowo beberapa waktu lalu.


Upaya pembaruan alutsista sejatinya sudah dikerjakan pada 2007 melalui MEF atau kebutuhan pokok minimum. Namun, realisasinya hingga zaman ini mengalami perlambatan.

MEF dibagi ke dalam beberapa tahap dengan jenjang waktu lima tahun, di mana tahap pertama dimulai di 2010 – 2014, periode kedua 2015 – 2019, dan seharusnya sudah menyentuh 100% pada akhir periode ketiga yakni periode 2020 – 2024.

Namun, hingga kini capaian MEF masih berada dalam bawah 65% dari 75% yang ditargetkan pada 2019. Namun, persoalan ini sungguh tak lepas dari keterbatasan anggaran yang dimiliki otoritas pertahanan.

“Artinya dibutuhkan perencanaan yang benar-benar komprehensif, didasarkan pada skala prioritas yang jelas, terukur, berkesinambungan, dan mengacu di proyeksi bentuk dan tingkat ancaman di masa yang akan datang, ” sekapur Pemerhati Militer Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi.

Menurutnya, meskipun masterplan yang dimaksud masih belum terlalu jelas, namun hal ini bisa menjadi jalan segar atas persoalan keterbatasan anggaran yang saat ini dimiliki Indonesia.

Kabar terakhir, pemerintah tengah merancang peraturan presiden (Perpres) masterplan pembaruan alutsista selama 25 tahun yang dilakukan dengan besar pinjaman luar negeri secara jumlah kurang lebih Rp 1. 760 triliun.

Jika dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia 2020 yang menyentuh Rp 15. 434, dua triliun, maka angka dengan dialokasikan pemerintah untuk coli alutsista selama 25 tarikh hanya berada di angka 11, 4%.

Apalagi jika angka PDB Indonesia tahun lalu dikalikan 25 tahun sebagai anggapan, maka persentase jumlah yang direncanakan dari PDB mau tampak lebih kecil, hanya 0, 7% setiap tahunnya.

“Artinya, bila rancangan masterplan itu bisa disetujui Presiden, maka Indonesia akan mampu mengejar tumpuan belanja pertahanan sekitar satu, 5% dari PDB bola lampu tahun, ” jelasnya.

“Asumsinya, sebanyak 0, 78% bersumber dari taksiran regular dan sekitar 0, 7% bersumber dari pinjaman luar negeri. Dengan begitu, harapannya dilema yang dirasakan tadi dapat terjawab, ” katanya.

[Gambas:Video CNBC]
(cha/cha)