Myanmar Memanas Lagi! Saluran Telepon-Internet Terputus

Jakarta, CNBC Indonesia – Situasi di Myanmar kembali memanas. Junta militer melancarkan serangan udara pascabentrokan dengan aktivis anti-kudeta di Kota Sagaing akhir pekan lalu. Akibatnya saluran telepon dan internet terputus di beberapa distrik.

Portal berita DVB melaporkan serangan udara terjadi saat tentara melancarkan serangan di daerah Pinlebu, Sagaing, barat laut Myanmar. Tidak sedikit warga yang mendengar pesawat dan ledakan sebelum saluran telepon dan internet mati, Sabtu (25/9/2021).

Seorang anggota Pinlebu Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF) mengkonfirmasi melalui telepon terjadi serangan udara dan tidak ada korban di antara kelompoknya.

“Kami tidak dapat menghubungi mereka karena internet dan saluran telepon padam,” kata aktivis, yang menolak disebutkan namanya, sebagaimana dilansir dari Reuters.

Pemerintah Persatuan Nasional (NUG), pemerintahan bayangan yang dibentuk oleh anggota parlemen yang digulingkan yang menentang junta, mengatakan gudang senjata berisi granat berpeluncur roket, senjata kecil dan peluru telah disita dalam pertempuran itu. Dikatakan lebih dari 25 tentara pemerintah tewas.

Terjadi peningkatan pertumpahan darah di daerah seperti Sagaing setelah NUG menyatakan pemberontakan pada 7 September dan meminta PDF untuk menargetkan junta dan asetnya.

Sebelumnya terjadinya pertempuran ini, junta militer terkadang menutup akses internet, terutama di kota-kota, sebagai upaya untuk mengekang demonstrasi.

Sejak Kamis, militer telah memutus akses internet di 11 distrik yang dilanda konflik di Negara Bagian Chin dan di wilayah Magway.

Pekan lalu, ribuan orang melarikan diri dari kota Thantlang di Negara Bagian Chin, yang berbatasan dengan India, setelah pertempuran yang menewaskan seorang pendeta Kristen.

Beberapa kelompok milisi juga mengaku bertanggung jawab atas ledakan sejumlah menara telekomunikasi yang dijalankan oleh Mytel, sebuah perusahaan yang sebagian dikendalikan oleh tentara.

Negara Asia Tenggara itu berada dalam krisis sejak militer melakukan kudeta pada 1 Februari. Ini mengakhiri satu dekade demokrasi dan memicu kemarahan di dalam dan luar negeri. Ini juga membentuk PDF untuk menghadapi militer.



[Gambas:Video CNBC]
(miq/miq)