RI Gencarkan Kompor Listrik, Mampu Signifikan Tekan Impor LPG?

Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah memiliki target bebas impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) pada 2030 mendatang. Salah satu cara menekan impor LPG merupakan dengan mendorong penggunaan anglo listrik.

Carik Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto mengatakan, hal tersebut tercantum dalam grand strategi energi nasional. Untuk menggencarkan penggunaan kompor listrik ini, menurutnya DEN akan mengusulkan kepada negeri, dalam hal ini Departemen Keuangan, agar kompor listrik dan peralatannya bisa dikasih kepada masyarakat golongan terbatas.

“Bahwa mampu juga kompor listrik ini beserta peralatan diberikan kepada masyarakat golongan tertentu, tersebut upaya pemerintah untuk melaksanakannya, ” kata Djoko di dalam acara ‘Launching Penggunaan Anglo Listrik Induksi’, Senin(03/05/2021).


Dia mengucapkan, dalam grand strategi energi nasional, kebutuhan LPG diperkirakan akan melonjak menjadi 8, 8 juta ton di dalam 2025 dan 9, 7 juta ton pada 2030 dari 2020 sebesar 8 juta ton. Sementara produksi LPG dari kilang yang telah ada di pada negeri diperkirakan akan tetap menurun.

Penerapan LPG dari kilang yang ada saat ini diperkirakan menurun menjadi 1, 4 juta ton pada 2025 dan 1, 2 juta ton pada 2030 dibanding saat ini sekitar 1, 8-2 juta ton bagi tahun.

“Kebutuhan LPG 8, 8 juta ton per tahun, buatan dalam negeri 2 juta ton, masih 77% impor, ini kita kurangi secara kompor listrik secara berangsur-angsur, ” paparnya.

Namun demikian, lanjutnya, cara untuk menekan impor LPG ini tidak hanya mampu dilakukan melalui pemanfaatan anglo listrik, tapi harus disertai dengan upaya lainnya, sesuai penggunaan gas pipa meniti program jaringan gas praja (jargas), serta memanfaatkan produk gasifikasi batu bara bersifat Dimethyl Ether (DME).

Adapun impor LPG pada 2025 diperkirakan hanya tinggal 1 juta ton dari 2020 sekitar enam, 1 juta ton. Berarakan pada 2030 ditargetkan tidak ada lagi impor LPG.

“2030 telah nggak impor LPG lagi, sebagian besar konversi ke kompor listrik, ” ujarnya.

Berdasarkan grand strategi energi nasional, untuk mencapai target bebas impor LPG pada 2030, ada beberapa cara akan dilakukan, di antaranya menambah jaringan gas sebanyak 10 juta sambungan rumah tangga. Penggunaan jargas ini pada 2030 ditargetkan mampu menekan impor sekitar satu, 1 juta ton setara LPG per tahun, terangkat dari 2025 sekitar 500 ribu ton per tahun dan 2020 yang baru sekitar 100 ribu ton per tahun.

Lalu, mendorong pemanfaatan kompor listrik untuk rumah nikah dengan penggunaan energi dengan kompetitif dan keberlanjutan suplai listrik. Penggunaan kompor listrik diperkirakan baru akan kaya menekan impor LPG di dalam 2030, yakni sekitar dua, 1 juta ton selaras LPG per tahun, terangkat dari target di 2025 sekitar 1 juta ton per tahun.

Kemudian, memproduksikan rich gas sebesar 500 ribu ton per tahun mulai 2022. Selain itu, meningkatkan produksi LPG dari pengembangan kilang minyak, mengembangkan DME & metanol dari Izin Cara Pertambangan (IUP) BUMN serta Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) perpanjangan.

Adapun penerapan DME pada 2025 diperkirakan bisa menekan impor LPG sebesar 3, 5 juta ton dan pada 2030 sekitar 3 juta ton per tahun.

Dengan tidak lagi impor LPG maka akan terjadi penghematan devisa selama 2021-2040 sebesar US$ 4 miliar per tahun.

[Gambas:Video CNBC]
(wia)