RI Terancam Resesi, Ini Kekhawatiran Pelaku Pasar Modal

RI Terancam Resesi, Ini Kekhawatiran Pelaku Pasar Modal

Jakarta, CNBC Indonesia – Para pelaku pasar saat tersebut sedang menanti dirilisnya data pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal kedua yang sudah diperkirakan akan tertekan cukup dalam. Pasalnya, kebijakan pembatasan sosial akibat pandemi Covid-19 membuat aktivitas ekonomi lumpuh, tak bergerak.

Kebijakan yang senada juga diterapkan di hampir seluruh negara untuk mencegah penularan virus Corona tipe baru. Sebagai dampaknya, beberapa negara sudah mengonfirmasi terjadinya resesi, alias pertumbuhan ekonomi yang minus dalam kuartal secara berturut-turut sebagaimana yang sudah terjadi di Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Korea Selatan, Hong Kong dan Singapura.

Head of Research PT Samuel Sekuritas, Suria Dharma menyampaikan, pelaku pasar saat tersebut sedang menantikan rilis pertumbuhan ekonomi kuartal kedua yang diperkirakan bakal minus di atas 5%. Berdekatan dengan hal tersebut, kinerja emiten di Bursa Efek Indonesia serupa akan turut mengalami tekanan.


“Kinerja emiten yang turun di kuartal II-2020 sudah diprediksi sebelumnya, ” kata Suria Dharma, kepada CNBC Indonesia, Selasa (4/8/2020).

Equity Analyst PT Phillip Sekuritas, Anugerah Zamzami Nasr juga memperkirakan, penurunan pertumbuhan PDB Indonesia di kuartal kedua diperkirakan akan turun bertambah dalam dari ekspektasi pasar. Ini memberikan tekanan kepada pasar saham karena pemulihan ekonomi nasional bakal memakan waktu lebih lama lagi.

“Sehingga dikhawatirkan recovery akan lebih lama, apalagi PSBB transisi Jakarta diperpanjang lagi berbenturan dengan peningkatan kasus harian juga di ibu kota, ” kata pendahuluan Zamzami.

Adapun, kira-kira sektor yang diperkirakan masih berkinerja cukup baik di kuartal ke-2 adalah emiten di sektor telekomunikasi, consumer dan pertanian. “Konstruksi, property, retail masih berat, ” paparnya lagi.

Sementara itu, Direktur Perdagangan serta Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo tidak menampik, pasar bagian masih dibayangi tekanan akibat kewaswasan terjadinya resesi di beberapa negeri akibat pandemi Covid-19. Tekanan itu kemarin sempat menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan turun 4% di sehari dan investor melakukan aksi jual lebih dari Rp 1 triliun.

“Iya [pasar mengkhawatirkan sentimen resesi yang sudah terjadi]. Concern mengenai kemungkinan resesi di kawasan Asean, ” sekapur dia kepada CNBC Indonesia.

[Gambas:Video CNBC]
(dob/dob)