satu Tahun LinkAja: Masih Kalah sejak OVO dan Dana, Diancam Shopee!

satu Tahun LinkAja: Masih Kalah sejak OVO dan Dana, Diancam Shopee!

Jakarta, CNBC Indonesia – 30 Juni 2019 lalu, kampit digital milik BUMN yakni LinkAja mulai eksis di Indonesia. LinkAja di bawah PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) dimiliki sahamnya oleh BUMN lain secara keroyokan.

Di awal pendiriannya, komposisi pemegang saham diantaranya: Telkomsel 25 persen, Bank Mandiri 19, 71 persen, BRI 19, 71 tip, BNI 19, 71 persen, BTN 7, 12 persen, Pertamina tujuh, 12 persen, Jiwasraya 1 upah, dan Danareksa 0, 63 upah.

Berdasarkan data yang dihimpun Product Management detikNetwork melalui thetool. io , LinkAja sampai Mei 2020 ini sudah di-download sebanyak 14. 729. 762 kali. Dengan average daily download mencapai 11. 014.

Sementara OVO yang merupakan PT Visonet Internasional Finance sendiri yang berdiri sejak 25 September 2017 sudah di-download 20. 922. 583 kali. Dengan average daily download mencapai 17. 806.

Infografis: Ini Perbedaan LinkAja dengan Kompetitor Foto: Infografis

Saingan berikutnya adalah DANA. Di bawah PT Espay Debit Nusantara Koe Finance, total downloadnya mencapai 16. 481. 414 kali secara daily average download 10. 932. DANA eksis sejak 5 Desember 2018.

Aplikasi sistem pembayaran lainnya adalah Gopay yang dimiliki Gojek. Namun sayangnya Gopay tidak berdiri sendiri dan tidak bisa dibandingkan dengan DANA, OVO dan LinkAja. Aplikasi Gopay berada di bawah Gojek yang adalah aplikasi ride hailing.

Kalah di Jakarta?

Ternyata pengguna LinkAja didominasi di luar Jakarta. Di klaim perseroan, LinkAja telah dilengkapi dengan hampir 120 fitur dan dipercaya oleh hampir 50 juta pengguna yang tersebar di bertambah dari 90% wilayah di segenap Indonesia. Sebanyak 83% pengguna LinkAja tersebar di luar Jakarta, secara 40% pengguna di antaranya berharta di luar pulau Jawa.

LinkAja ternyata masuk ke pasar-pasar dalam ekspansinya. Beda dengan OVO dan DANA di mal besar. Hingga Juni 2020 LinkAja juga mengklaim telah mendigitalisasi pembalasan di 466 pasar tradisional seluruh Indonesia, bekerja sama dengan 234. 000 merchant lokal dan menyediakan lebih dari 1 juta akses cash in kepada masyarakat, baik berupa bank channel, modern retail hingga layanan keuangan digital.

Infografis: Ini Perbedaan LinkAja dengan Kompetitor Foto: Infografis/Ini Memperlawankan LinkAja dengan Kompetitor/Arie Pratama
Infografis: Ini Perbedaan LinkAja dengan Kompetitor

Wakil Gajah II Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo mengatakan Kementerian BUMN menyatakan untuk terus menunjang pengembangan LinkAja di umur satu tahun ini sebagai salah kepala inisiatif layanan keuangan dengan tujuan meningkatkan literasi dan inklusi keuangan.

“Keberadaan LinkAja sebagai dompet elektronik terkemuka di Indonesia akan melengkapi ekosistem industri keuangan dalam menjangkau dan mengedukasi umum, khususnya yang belum tersentuh sebab layanan perbankan, ” tegas Tiko, sapaan akrab Kartika.

Persaingan Makin Ketat

Persaingan dompet digital OVO, GoPay, DANA dan LinkAja untuk menguasai pasar pembayaran termasuk sengit. Namun mereka harus waspada dengan kehadiran pemain baru hak Shopee bernama ShopeePay.

Riset Goldman Sachs berjudul Nusantara Internet: The Fight to Unite The Verticals yang dipublikasikan dalam 10 Maret 2020 mengatakan Shopeepay memiliki keunggulan karena bisa menggunakan ekosistem e-commerce Shopee.

“Untuk pembayaran, e-wallet akan lulus bila dikombinasikan dengan penggunaan internal yang powerful (terutama e-commerce), [kami] menjagokan OVO atau ShopeePay, ” jelas Goldman Sachs.

ShopeePay mulai mampu digunakan untuk bisnis e-commerce di Juni 2019 dan sudah mendiversifikasi bisnis dengan memberikan pinjaman masa pendek pada pengguna atau dengan lazim disebut sebagai Pay Later.

ShopeePay dianggap mampu meningkatkan bisnis Shopee karena menekan transaksi tak terjadi. “Kami membenarkan bahwa platform e-commerce Shopee sanggup menjadi use case yang kuat untuk mendapatkan pengguna dalam platform pembayaran dan pinjaman, ” nyata Goldman Sachs.

Goldman Sachs memprediksi pasar sistem pembayaran Indonesia akan mencapai US$95, 2 miliar pada 2025, yang didorong masifnya biaya promosi, meningkatnya penetrasi smartphone di Indonesia, peningkatan tanggapan internet dan penambahan penggunaan di offline.


Direktur Pati LinkAja Haryati Lawidjaja mengatakan PR LinkAja memang masih banyak. Intinya adalah akses layanan keuangan digital untuk masyarakat.

“Masih banyak pekerjaan rumah yang kudu dilakukan dalam mencapai visi dan misi kami, namun kami meminta awal kecil ini dapat menjadi langkah besar dalam membawa mutasi berarti, memberikan kesetaraan akses layanan keuangan digital untuk seluruh lapisan masyarakat. Kami juga percaya, berbekal niat baik dan usaha terbaik yang dilakukan oleh segenap pembawaan terbaik bangsa, LinkAja dapat langsung berkontribusi untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat luas, menjadi kebahagiaan bagi bangsa tercinta. ”

Selamat Ulang Tahun LinkAja, Panjang Umur (Semoga)!

Saksikan video terkait di lembah ini:

(roy)
slot online