Setimbal Ketidakpastian Masih Akan Terjadi di 2021, Ngeri!

Setimbal Ketidakpastian Masih Akan Terjadi di 2021, Ngeri!

Jakarta, CNBC Indonesia berantakan Presiden  Jokowi menyampaikan bagaimana memburuknya situasi ekonomi dunia akibat pandemi Covid-19. Ibaratnya, kondisi ini seperti awan buruk yang menyelimuti sejumlah negara, tak terkecuali Indonesia,

“Hampir semua negara. 215 negara mengalami hal yang sebanding seperti kita. Yang kecil pelik, yang tengah sulit, yang gede sulit. Sesuatu yang tidak gampang, ” jelasnya.

Di depan para gajah, Jokowi menegaskan situasi perkembangan ekonomi dunia masih dinamis dan penuh ketidakpastian. Indonesia, pun bisa pustaka saja terseret ke dalam aliran pergerakan tersebut.

“Saya ingin ingatkan bahwa situasi ekonomi global berkembang sangat dinamis, sempurna dengan ketidakpastian, ” kata Jokowi.

Situasi tersebut, sebutan Jokowi, telah terlihat dari sebesar lembaga keuangan internasional yang kerap kali mengubah proyeksi terbarunya akan pertumbuhan ekonomi global di tarikh 2020 maupun 2021.


“Artinya, sekali sedang ini masih penuh dengan ketidakpastian, ” kata eks Gubernur DKI Jakarta itu.

Di dalam 2021, lembaga keuangan internasional kaya Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, maupun OECD kompak menebak ekonomi dunia akan mengalami pembaruan yang cukup menggembirakan.

“IMF memperkirakan ekonomi dunia hendak tumbuh 5, 4%. Ini sebuah perkiraan yang sangat tinggi patuh saya. Bank Dunia 4, 2%, OECD 2, 8% – 5, 2%. Saya kira kalau evaluasi ini betul, kita akan berkecukupan pada posisi ekonomi yang pula mestinya di atas pertumbuhan ekonomi dunia, ” ujarnya.

Jokowi menegaskan dalam situasi genting seperti ini belanja negara memegang peranan penting untuk menggerakkan instrumen pertumbuhan ekonomi.

“Dalam situasi krisis seperti ini, biaya pemerintah menjadi instrumen utama untuk daya ungkit, ” kata Jokowi.

Jokowi memahami kalau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negeri (APBN) hanya berkontribusi terhadap kurang lebih 14, 5% dari Buatan Domestik Bruto (PDB). Namun, era ini hanya belanja negara dengan bisa diandalkan.

“Untuk sektor swasta, UMKM bisa sehat kembali. Mesin penggerak ini kudu diungkit dari APBN yang terarah dan tepat sasaran, ” katanya.

Pandemi Covid-19 benar masih akan terasa efeknya maka 2021. Hal ini menjadi pertimbangan pemerintah untuk menetapkan RUU APBN dan Nota Keuangan 2021.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan sederet ketidakpastian yang masih akan tinggi di tarikh 2021 nanti.

“Satu, mengenai kecepatan dan kemungkinan pengerjaan covid di seluruh dunia. Yaitu pengendalian covid apakah benar-benar bisa terkendali menjadi mendatar atau mendarat, ” tegas Sri Mulyani.

Dan kemudian, menurut Sri Mulyani, munculnya vaksin untuk covid-19 ini, akan sangat menentukan bagian dan pola pemulihan tahun 2021.

Yang kedua, yang mempengaruhi juga proyeksi tahun aliran adalah global economic recovery. Recovery atau pemulihan ekonomi global itu juga sangat tidak pasti kelanjutan covid lagi. ”

“Saat ini beberapa lembaga global perkirakan pemulihan ekonomi akan lulus cepat untuk tahun depan. Dengan asumsi tahun ini menurunnya betul tajam, namun kita melihat kalau lembaga-lembaga tersebut terus menerus melakukan revisi pemulihan ekonomi 2020-2021, ” katanya.

Sehingga pemulihan ekonomi dunia, sambungnya juga diperkirakan masih tidak pasti. “Bisa strong rebound, bisa sifatnya moderate, ” ujarnya.

Yang ketiga, lanjut Sri Mulyani yang mempengaruhi juga adalah ekonomi RI sendiri. Di mana pemulihannya sangat tergantung dalam penanganan covid terutama pada semester II-2020.

“Kalau penanganannya efektif, dan berjalan seiring secara pembukaan aktivitas ekonomi, maka suasana ekonomi bisa recover pada kuartal III-2020 dengan positive growth 0, 4 persen dan pada kuartal IV akan akselerasi ke 3 persen. Kalau itu terjadi, oleh sebab itu pertumbuhan ekonomi kita secara segenap tahun (2020) akan bisa langgeng di zona positif, ” jelasnya.

“Inilah yang pantas terus diupayakan oleh pemerintah untuk tekankan kepada semua menteri & pemda agar kita tetap berharta di skenario di mana pemulihan ekonomi tetap bisa berjalan pada zona positif di kuartal 3 antara 0-0, 4 dan kuartal IV pada zona positif bertambah tinggi antara 2-3 persen. Sehingga total perekonomian kita masih bisa tumbuh positif di atas nol persen untuk tahun 2020 tersebut. ”

[Gambas:Video CNBC]
(sef/sef)