The Fed Lagi Ketemuan, Mungkinkah Bawa Kabar Buruk?

Jakarta, CNBC Indonesia kacau Pertemuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, pekan ini membuat pasar berdebar-debar. The Fed akan menjadi pusat perhatian kala Jerome Powell menyampaikan petunjuk pers, hasil rapat dua hari, ke wartawan 16-17 Maret 2021.

The Fed akan merilis perkiraan baru soal ekonomi AS dan tingkat suku bunga. Bisa saja, The Fed mengharapkan kenaikan suku bunga dari fed fund rate (FFR) sebesar 0% hingga 0, 25%, seiring membaiknya ekonomi AS.


Melansir CNBC International , sebagian anggota The Fed diyakini telah siap menaikkan FFR pada 2023. Namun beberapa anggota mungkin ingin menaikkan suku kembang tahun depan.

“Saya pikir pada konferensi pers terakhir kemarin, kami hanya mendengarkannya dengan separuh perhatian… Namun kali itu, saya akan mendengarkan pada setiap kata dan pasar-pun akan mengikuti setiap kata, ” kata Kepala Investasi BlackRock untuk pendapatan tetap global, Rick Rieder, Selasa (16/3/2021).

“Jika dia (Powell) tak mengatakan apa-apa, itu bakal menggerakkan pasar. Jika dia banyak bicara, itu mau menggerakkan pasar. “.

Hal senada selalu dikatakan pengamat lainnya Besar Strategi Suku Bunga Bank of America, Mark Cabana. Ia menebak, mungkin The Fed akan membuat penjelasan yang tak akan akomodatif ke pasar.

“Kami pikir mereka bakal terdengar sedikit lebih optimis tapi tetap berhati-hati. Walaupun begitu, kami pikir akan sulit bagi mereka untuk terdengar dovish karena bahan di lapangan semakin positif, ” katanya.

“Akibatnya, kami pikir itu akan terdengar kurang akomodatif dari yang diharapkan rekan. Kami pikir mereka jadi akan menunjukkan peningkatan dalam akhir tahun 2023. ”

Sebelumnya, biar prospek ekonomi telah pulih, Powell mengatakan bahwa menimbulkan suku bunga akan memerlukan “ekonomi untuk kembali ke lapangan kerja penuh serta inflasi mencapai tingkat dengan berkelanjutan di atas 2%”. Ia sempat berujar tidak mengharapkan keduanya terjadi tarikh ini.

[Gambas:Video CNBC]
(sef/sef)