Tidak Punya Nilai Fundamental, Tersebut yang Bikin Kripto Diburu

Jakarta, CNBC Indonesia semrawut Memasuki tahun 2021, lupa uang kripto kian menggila dengan pecah rekor sempurna barunya, seperti yang diperlihatkan Bitcoin dan Ethereum. Minus nilai fundamental, para pemakai menciptakan nilai ‘adikodrati’ tanda uang digital, sehingga membuatnya bersinar.

Lompatan harga mata uang kripto yang agung ini seolah menampar pejabat pemerintah, bank sentral serta bahkan ekonom wahid tingkat dunia yang sebelumnya memperhitungkan mata uang kripto ialah aset yang lahir dibanding dan untuk spekulasi, & tidak memiliki nilai fundamental di dalamnya.


Menteri Keuangan AS Janet Yellen, misalnya, menyebut aset tersebut berbahaya karena sangat tak efisien dijadikan alat bertransaksi tetapi menjadi ajang spekulasi tingkat tinggi. Seruan yang sama juga dikeluarkan pembesar bank sentral AS Jerome Powell, dengan menyebut Bitcoin dkk itu sebagai “kendaraan spekulasi. ”

Bahkan ekonom Nouriel Roubini yang merupakan profesor ekonomi di Stern School of Business, New York University, dengan lugas menyebutkan bahwa Bitcoin adalah “gelembung dengan diciptakan sendiri. ”

“Secara fundamental, bitcoin bukanlah timbil uang. Itu bukan unit akun, juga bukan media pembayaran terukur, dan bukan penyimpan nilai ( store of value ) yang stabil, ” kata ekonom berjulukan Dr. Doom tersebut sebagaimana diberitakan Business Insider , Jumat (19/2/2021).

Pada penelitian ilmiah berjudul “Speculative Bubbles in Bitcoin Markets? Suasana Empirical Investigation into The Fundamental Value of Bitcoin”(2015), peneliti Sheffield Cheah Eng-Tuck dan John Fry University menemukan kesimpulan bahwa ukuran fundamental Bitcoin adalah “nol. ”

Lalu apa faktual yang membuat para trader dan pencinta mata kekayaan kripto meyakini sebaliknya? Untuk mendapatkan jawabannya, kita menetapkan menelusuri dan membandingkan kepribadian alamiah mata uang kripto dengan aset yang dianggap sejenis, yakni emas dan mata uang kertas.

Emas memiliki nilai intrinsik. Dia juga bisa dijadikan instrumen penyimpan nilai sehingga semesta dunia menerima dan mengoleksinya sebagai aset investasi. Kala orang membeli emas, dia tahu betul bahwa siapapun bakal mengakui dan menyambut bahwa yang dia kulak adalah logam bernilai.

Logam mulia ini juga sudah diakui sebagai alat tukar dan alat pembayaran di peradaban lampau berbagai negeri. Kini, fungsi tersebut sudah digantikan oleh uang kertas ( fiat money ) yang, bagaikan halnya mata uang kripto, sebenarnya tidak bernilai melekat.

Lalu sama-sama tak berkualitas intrinsik, kenapa mata uang kertas diterima sebagai alat pembayaran sedangkan mata uang kripto diragukan dan “dinyinyiri” terus oleh tokoh tadbir dan ekonom seluruh dunia?