Wuidih! Grab Mau IPO dalam Wall Street, Valuasi Tembus Rp 560 T

Jakarta, CNBC  Indonesia kacau Grab Holdings Inc medium dalam pembicaraan untuk go public   atau mencatatkan bagian perdana ( initial public offering /IPO) melalui merger dengan kongsi akuisisi bertujuan khusus (SPAC,   Special Purpose Acquisition Company) di pasar uang Wall Street AS.

Langkah ini akan  menjadikan perusahaan manusia besar ride-hailing   ini memiliki valuasi hampir US$ 40 miliar atau setara dengan Rp 560 triliun (kurs Rp 14. 000/US$). Sumber Reuters yang mengetahui informasi ini menyatakan kesepakatan ini juga akan menjadikannya  ‘deal’ secara perusahaan cek kosong (SPAC) terbesar yang pernah ada.

The Wall Street Journal (WSJ) melaporkan sebelumnya bahwa Grab yang didukung SoftBank sedang pada pembicaraan dengan Altimeter Capital Management LP dalam metode go public ini.


Grab diperkirakan akan mengumpulkan antara US$ 3 miliar dan US$ 4 miliar atau seimbang dengan Rp 42-56 triliun dari investor swasta, menurut laporan itu.

Reuters prima kali melaporkan pada Januari, mengutip sumber, bahwa Grab yang berbasis di Singapura sedang menjajaki  menjadi kongsi publik di  AS.

Perusahaan modal ventura yang berbasis di Silicon Valley, Altimeter, telah menunjang dua SPAC  yakni Altimeter Growth Corp dan Altimeter Growth Corp 2.

Laporan WSJ tak merinci mana dari perut SPAC yang sedang dalam pembicaraan Grab.

Perusahaan akuisisi bertujuan khusus, atau SPAC, adalah kongsi cangkang yang mengumpulkan sedekah melalui penawaran umum pertama untuk membuat perusahaan swasta menjadi perusahaan publik.

Kesepakatan besar SPAC lainnya baru-baru ini  berlaku yakni merger UMW Holdings Corp senilai US$ 16 miliar dengan perusahaan cek kosong yang didukung sebab miliarder Alec Gores, & kesepakatan senilai US$ 24 miliar yang dibuat oleh pembuat kendaraan listrik kaya Lucid Motors dengan SPAC yang didukung Michael Klein.

Altimeter tak segera menanggapi permintaan komentar Reuters, sementara Grab serupa tidak dapat dihubungi untuk memberikan komentar di asing jam kerja reguler.

Di Indonesia, CNBC  Indonesia mencoba mengonfirmasi informasi ini kepada Presiden Grab Indonesia  Ridzki Kramadibrata, tapi hingga saat ini belum ada jawaban.

Sebelumnya sejumlah startup bergelar unicorn seolah-olah Gojek, Tokopedia, Traveloka, & Bukalapak digadang-gadang sedang bersiap untuk IPO  lewat SPAC.

CEO Mandiri Capital, Eddi Danusaputro mengutarakan usia para unicorn sekitar 8 hingga 10 tarikh. Sebagai investor, ini masa yang tepat untuk balik modal dan IPO maka salah satu caranya.

Menurutnya IPO sungguh jadi hal lazim yang dikenal untuk para investor bisa exit.

“Kami sebagai kacamata seorang investor kita Invest di awal series A-B, telah saatnya uang tersebut mau balik dong. Jadi IPO memang jadi salah satu cara untuk investor bisa exit, ” kata Eddi dalam program Profit CNBC Indonesia, Selasa (9/3/2021).

Pekan lalu, Bloomberg News  juga mengabarkan adanya merger antara Gojek serta Tokopedia  yang selangkah lagi terwujud dan tinggal menyelesaikan persyaratan untuk merger.

Bloomberg menulis, ke-2 perusahaan sedang mendiskusikan bermacam-macam skenario dengan tujuan simpulan mencatatkan saham perdana kongsi gabungan ini atau IPO  di bursa saham bagian AS dan Indonesia.

Gabungan ke-2 perusahaan ini akan menciptakan perusahaan raksasa internet Indonesia yang menguasai sektor ride-hailing, pembayaran digital, belanja online dan pengiriman.

Salah mulia sumber dalam artikel tersebut membisikkan, setelah merger valuasi perusahaan gabungan ini akan mencapai US$ 35 miliar hingga US$ 40 miliar. Menurut CB Insights era ini valuasi Gojek menyentuh US$ 10 miliar serta Tokopedia US$ 7 miliar.

Terkait dengan informasi melanggar CSPA antara Gojek & Tokopedia, VP of Corporate Communications Tokopedia Nuraini Razak mengatakan pihaknya tidak mampu menanggapi spekulasi yang tersedia di pasar.

“Berkaitan dengan pertanyaan tersebut, mohon maaf. Kami tidak dapat menanggapi spekulasi yang ada pada pasar, ” kata Nuraini ketika dikonfirmasi CNBC Indonesia, Selasa (09/03/2021).

Sementara tersebut, Nila Marita Chief of Corporate Affairs Gojek menuruti untuk tidak berkomentar mengenai informasi tersebut.

[Gambas:Video CNBC]
(tas/tas)